| Nagara Surya Padang. Sumber Gambar: Dokumen Pribadi |
Sampurasun!
Kamis, 13 Februari 2020, saya bersama Jang Alfis Safrudin, Mamah, A Dani Sopian, Mang Ilham dan Teh Lestari, berkunjung ke Gunung Padang, salah satu situs Megalitikum tertua di dunia. Tujuan utama kami adalah sowan kepada sesepuh Gunung Padang, dengan Hakikat Allah SWT, Syariat para sesepuh Gunung Padang, meminta Barokah tur Karomah. Disamping itu, kami juga ingin belajar dan mendapat pelajaran mengenai sejarah purbakala dan proses terbentuknya piramid kuno tertua di dunia.
Berangkat dari Karawang pukul 10:00 WIB melewati Tol Cikampek dan keluar Tol Padalarang, disambung melewati Jalan Arteri Padalarang - Cianjur dan sampai di Gunung Padang pukul 14:30 WIB. Setibanya di lokasi, kami rehat sejenak untuk ngopi dan berbincang - bincang dengan kuncen Gunung Padang, yang bernama Abah Dardi.
| Ngopi |
Abah Dardi bercerita banyak kepada kami. Abar Dardi mengatakan bahwa kalau tujuannya untuk berwisata atau edukasi sejarah, maka cukup menyebut berwisata ke Gunung Padang. Tetapi kalau tujuannya untuk ziarah atau sowan, sebaiknya menggunakan istilah Nagara Surya Padang, karena situs ini lebih dari sekedar area purbakala, tetapi merupakan pusat kekuatan energi, barokah dan karomah. Di Nagara Surya Padang ada 69 sesepuh dari 5 tingkatan atau teras yang ada. Tiap teras ada ciri khas dan keunikan masing - masing. Abah Dardi juga menuturkan kalau kita harus menjaga adab, sopan santun dan tutur kata selama di Nagara Surya Padang.
![]() |
| Tampak Depan Nagara Surya Padang |
Saat akan naik ke puncak, kami disambut dengan hujan yang cukup deras, yang menandakan keberkahan. Sebelum naik ke teras 1, ada cai kahuripan atau air kehidupan yang dipercaya untuk menyembuhkan penyakit dan manfaat - manfaat lainnya. Airnya segar dan patut untuk dicoba.
![]() |
| Cai Kahuripan |
Untuk menuju teras 1, harus melewati anak tangga berjumlah 300-an yang terbuat dari batu (column) yang tersusun rapi dan cukup tinggi. Perlu kehati - hatian untuk mencapai puncak teras 1. Di teras 1 ada banyak batu, tersusun acak namun rapi. Ada pula batu gamelan dan batu gong.
| Anak Tangga Menuju Teras 1 |
| Susunan Batu Teras 1 |
| Batu Gamelan |
Untuk menuju teras 2 hanya melewati beberapa anak tangga saja, tidak seperti perjuangan menuju teras 1. Di teras 2 ada batu duduk. Menurut Abah Dardi, dahulu kala, batu duduk ini digunakan bagi mereka yang ingin berpergian ke tempat jauh dengan sekali kilatan, ngelebat cos kilat. Panglima Eyang Surya Kencana merupakan salah satu sesepuh yang nyepeng batu duduk ini. Masih di teras 2, ada jejak Kujang dan jejak cakar Macan (Maung) di batu. Kujang berarti Kukuh Kana Jangji dan Maung berarti Manusia Unggul.
| Jejak Kujang |
| Jejak Cakar Maung |
| Batu Duduk |
Lanjut ke teras 3. Di teras 3 tidak ada fenomena khusus, hanya susunan batu - batu yang tersusun rapi. Lanjut ke teras 4. Disana ada sebuah batu yang dijuluki batu gendong, dimana menurut Abah Dardi, barang siapa yang dapat mengangkat batu tersebut, maka permohonannya dapat terkabul.
| Teras 5 Arah Gunung Gede Pangrango |
Lanjut ke teras 5 yang merupakan teras terakhir. Ada sekumpulan batu yang membentuk tempat peristirahatan dan merupakan petilasan Sri Baduga Maha Raja Eyang Prabu Siliwangi. Disana kami bertawashul, dengan Hakikat Allah SWT, Syariat Sri Baduga Maha Raja Eyang Prabu Siliwangi dan sesepuh lainnya, meminta Barokah tur Karomah. Tawashul dipimpin Abah Dardi ditutup dengan Doa Bersama. Selepas itu, kami mengabadikan momen untuk berfoto ria.
| Petilasan Sri Baduga Maha Raja Eyang Prabu Siliwangi |
| Mamah |
| Dani Sopian |
| Alfis Safrudin |
| Ilham |
| Ibrahim |
Semoga kedatangan kami ke Dangiang Nagara Surya Padang menjadi pembuka dari semua tujuan mulia kami, Aamiin Allahuma Aamiin.
-Deny Putra Hutama-


Comments
Post a Comment