![]() |
| Petisi Kasus Ibrahim Malik. Sumber Gambar: Kumparan |
Minggu-minggu ini jagad lini masa dihebohkan kasus pelecehan seksual kembali. Seakan bertubi-tubi pengaduan para korban pelecehan seksual akhir-akhir ini. Mungkin momennya baik, sedang gencar-gencarnya speak up kasus semacam ini. Sulit memang untuk para korban speak up, perlu momen yang tepat dan para pendamping bantuan hukum.
Saya akan memberikan pendapat saya mengenai kasus terduga pelecehan seksual Ibrahim Malik. Dari berbagai portal berita online yang ada, jumlah korban yang diberitakan mengalami kasus pelecehan seksual sebanyak 30 orang. Berikut adalah lini masa kasus Ibrahim Malik. Sumber gambar tertera.
Dan sang terduga pelaku pelecehan seksual, Ibrahim Malik, pun membalas tuduhan yang dialamatkan kepada dirinya dengan memberikan klarifiksi melalui akun instagramnya. Sumber Instagram Ibrahim Malik.
Jujur, perasaan saya sangat kecewa, marah dan muak dengan klarifikasi tersebut. Tidak ada satupun pernyatannya dalam 3 lembar kertas tersebut yang menyanggah kasus pelecehan seksualnya, entah itu sanggahan kepada 30 korban, bagaimana kronologis hubungannya dengan 30 korban setelah beredar beberapa screenshoot chat vulgarnya dengan korban, dan bagaimana membuktikan ketidak bersalahannya. Alih-alih menanggapi itu semua, dia malah berdiri dibelakang tameng agama, membawa nama Tuhan, Ramadhan yang suci, yang sama sekali tidak menjawab tuduhan yang dialamatkan padanya. Munafik sekali, sangat munafik. Mengagungkan dirinya bahwa sedang dekat dengan Tuhan di bulan yang suci, dalam kertas ke-2 bagian atas ia menyatakan "Tapi demi Allah dengan segala Dzat yang ada di tangan-Nya, saya tidak akan membenci siapapun dan akan mendoakan kebaikan bagi hati-hati yang dipenuhi dengan kebencian di bulan suci ini". Saya sudah kehabisan kata-kata untuk orang seperti ini, jijik, muak, hina. Memang yang berhak memutuskan benar/salah hanya pengadilan, namun logic saya mengatakan bahwa kemungkinan besar ia bersalah. Dasar argumen saya adalah pertama, tidak mungkin 30 korban pelecehan seksual melaporkan kasus ini tanpa adanya bukti yang mereka miliki, baik jejak digital maupun bukti non digital lain. Kedua, beberapa lembaga bantuan hukum seperti LBH Yogyakarta sudah mendampingi 30 korban dan berpotensi bertambah, tidak mungkin sebuah lembaga bantuan hukum memberikan perlindungan tanpa adanya investigasi awal, apakah benar terjadi sebuah kasus atau hanya akal-akalan korban, pasti mereka memiliki fakta dan bukti awal. Ketiga, kampus tempat terduga pelaku pelecehan seksual menamatkan pendidikan S1 telah mencabut status Mahasiswa Berprestasi, tidak mungkin kampus mencabut status Mahasiswa Berprestasi hanya berdasarkan isu atau rumor yang tidak jelas, pasti kampus telah melakukan investigasi di lapangan. Sebagai warga negara yang baik, kita tunggu saja vonis pengadilan yang memutuskan, apakah Ibrahim Malik tidak bersalah atas tuduhan pelaku pelecehan seksual atau bersalah atas tuduhan pelaku pelecehan seksual dan berlindung dalam narasi agama dalam menutupi kebejatannya.
Ini bukan kasus pelecehan seksual seperti yang sebelum-sebelumnya. Sang terduga pelaku pelecehan seksual pun diberi gelar "Ustadz" oleh para jama'ahnya, "pemuda yang mengubah dunia", seperti poster dibawah ini.
![]() |
| Sumber Gambar: Google |
Kriteria Ustadz memang sangat rendah untuk saat ini. Mereka hanya pandai beretorika memainkan dalil firman Tuhan dan sabda nabi, tetapi tidak memiliki akhlak. Sangat jauh untuk dipanggil sebagai seorang ustadz apabila hanya bermodal ilmu-ilmu syariat tanpa dibarengi ilmu-ilmu tasawuf yang berperdoman pada kebajikan, kebijaksanaan dan akhlak mulia.
Saya seketika teringat dawuh Gus Baha dalam Pengajian Kitab Nashaihul Ibad. Gus Baha mengutip Sabda Kanjeng Nabi yang diriwayatkan Imam al-Hakim yang berbunyi "Siksa paling dahsyat di hari kiamat adalah untuk orang yang memperlihatkan pada orang lain bahwa dirinya baik sedangkan kenyataannya tidak ada". Kesannya baik padahal tidak ada kebaikan sama sekali. Kesannya sholeh padahal tidak ada kesholehan sama sekali.
Semoga kita semua terhindar dari perilaku munafik. Biarkan kita dipandang biasa-biasa saja dalam kehidupan sehari-hari, tidak terlalu menampilkan kesholehan diluar padahal bejat didalam. Bukan berarti kita buruk sangka kepada orang sholeh. Hanya nurani pribadi yang dapat menilai.
Mustahil orang yang hafal al-Qur'an mencari ridho manusia dengan tampil sok sholeh dan sok alim. Yang ada dalam al-Qur'an adalah diridhoi oleh Allah, bukan diridhoi oleh manusia, radhiyallahu 'anhum waradhu 'anhu.
-Deny Putra Hutama-







Comments
Post a Comment