![]() |
| Sumber Gambar: Google |
Narasi semua agama sama mungkin sudah tidak asing lagi di telinga Anda. Ya, kalau kita kilas balik sekitar 5 tahun silam, penggagasnya adalah Jaringan Islam Liberal. Fokus tulisan saya kali ini adalah mengungkap kebenaran secara ilmiah atas pernyataan yang menyesatkan yang menyatakan bahwa semua agama sama serta mengungkap betawa ngawur-nya aktivis Jaringan Islam Liberal dalam memahami ajaran. Yang saya tulis berikut bukan sepenuhnya pendapat saya pribadi, saya bukan ahli tafsir dan ahli fikih, namun saya merangkum pendapat dari Gus Baha dalam Pengajian Tafsir Jalalain yang beberapa waktu silam menyampaikan pendapatnya mengenai kesesatan Islam Liberal.
Mereka yang "katanya" Intelektual Islam tersebut salah kaprah menafsiri al-Baqarah ayat 62, lha wong ngajinya saja di Barat (Amerika). Berikut adalah bunyi al-Baqarah ayat 62:
اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَا لَّذِيْنَ هَادُوْا وَا لنَّصٰرٰى وَا لصّٰبِئِـيْنَ مَنْ اٰمَنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَعَمِلَ صَا لِحًـا فَلَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۚ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Sabi'in, siapa saja (di antara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari Akhir dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 62)
Kalau kita menafsiri ayat tersebut secara bebas, sama dengan gaya para aktivis Islam Liberal yang menafisir ayat tersebut secara bebas dan sesuka hatinya, terlihat ada kesetaraan dan kesejajaran antara orang Beriman, Yahudi, Nasrani dan Sabi'in, asal mereka beriman dan berbuat baik.
Gus Baha dalam Pengajian Tafsir Jalalain sampai menyatakan bahwa: "Saya sampai mati akan tetap terus menjelaskan ini (kebenaran) ya karena tugas Ulama ya menjelaskan". Gus Baha mengatakan demikian karena saking resahnya terhadap pembodohan ajaran yang dilakukan oleh orang - orang yang mengatasnamakan Intelektual Islam.
Menurut Gus Baha, al-Quran turun menggunakan istilah resmi, kemudian ada istilah yang datang belakangan karena berkembangnya zaman. Yang menjadi duduk persoalan adalah menjadikan istilah belakangan untuk memaknai al-Quran, menggantikan istilah resmi saat al-Quran diturunkan.
Menurut Gus Baha, Yahudi yang dimaksud dalam al-Baqarah ayat 62 adalah Yahudi secara marga yaitu keturunan Yahuda bin Ya'kub bin Ishaq bin Ibrahim. Jadi orang manapun, baik itu Palestina, Lebanon dan Arab, asal mereka keturunan Yahuda disebut Yahudi. Tentu karena faktor keturunan ini, mereka bisa menjadi orang Islam, Yahudi, Nasrani atau Atheis sekalipun, akan tetapi tetap disebut Yahudi karena memang asli keturunan Yahuda. Jadi dalam al-Baqarah ayat 62 yang disebut Yahudi adalah Yahudi secara marga atau keturunan Yahuda dan bukan Yahudi yang berideologi menolak Islam dan Muhammad. Kalau Yahudi yang berideologi yang demikian jelas buruknya karena menolak Islam dan Muhammad.
Sama halnya dengan Israil. Israil adalah nama orang. Sama halnya dengan Yahudi (Sekali lagi Yahudi Marga atau keturunan Yahuda) yang apabila beriman kepada Allah dan berbuat baik akan mendapatkan Surga, bergitu juga orang Israil dan keturunannya (Bani Israil) yang dipuji Allah dalam al-Baqarah ayat 122:
يٰبَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ اذْكُرُوْا نِعْمَتِيَ الَّتِيْۤ اَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَاَ نِّيْ فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعٰلَمِيْنَ
"Wahai Bani Israil! Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu dan Aku telah melebihkan kamu dari semua umat yang lain di alam ini (pada masa itu)."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 122)
Wolak - walike zaman, lahir sebuah negara yang disebut Israel. Orang manapun, baik itu Amerika, Jerman, Inggris yang berdomisili di Israel dan ber-KTP Israel disebut Bangsa Israel. Tentu Israel yang sebagai negara yang datang belakangan ini bukan yang dimaksud dalam al-Baqarah ayat 122.
Jadi dapat disimpulkan bahwa setiap ayat dalam al-Quran yang menyebut Bani Israil adalah merujuk pada mereka keturunan Yahuda secara Biologis atau Nasab, yaitu keturunan Ya'kub bin Ishaq bin Ibrahim yang saat itu hidup di Makkah dan Madinah, bukan negara Israel yang datang belakangan ini dan bermusuhan dengan Palestina. Clear!
Untuk kalimat Nashara dalam al-Baqarah ayat 62, yang dimaksud Nashara menurut Gus Baha adalah orang yang pernah menolong Nabi Isa. Menolong Nabi Isa yang dimaksud adalah menolong Nabi Isa sebagai Nabi, sebagai orang baik. Nashara yang menjadi penolong Nabi Isa bukanlah Nashara yang Trinitas, bukan Kristen Protestan maupun Kristen Katolik, yang wolak walike zaman disebut Nasrani.
Nashara yang menjadi penolong Nabi Isa sampai dipuji Allah dalam al-Maidah ayat 82:
لَـتَجِدَنَّ اَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِّـلَّذِيْنَ اٰمَنُوا الْيَهُوْدَ وَا لَّذِيْنَ اَشْرَكُوْا ۚ وَلَـتَجِدَنَّ اَ قْرَبَهُمْ مَّوَدَّةً لِّـلَّذِيْنَ اٰمَنُوا الَّذِيْنَ قَا لُوْۤا اِنَّا نَصٰرٰى ۗ ذٰلِكَ بِاَ نَّ مِنْهُمْ قِسِّيْسِيْنَ وَرُهْبَا نًا وَّاَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُوْنَ
"Pasti akan kamu dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman, ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan pasti akan kamu dapati orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman, ialah orang-orang yang berkata, Sesungguhnya kami adalah orang Nasrani. Yang demikian itu karena di antara mereka terdapat para pendeta dan para rahib, (juga) karena mereka tidak menyombongkan diri."
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 82)
Nashara yang Trinitas bukanlah Nashara yang sebagai penolong Nabi Isa. Nashara yang Trinitas (Nasrani) disebut kafir oleh Allah dan tersurat dalam al-Maidah 73. Clear!
لَـقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَا لُوْۤا اِنَّ اللّٰهَ ثَا لِثُ ثَلٰثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ اِلٰهٍ اِلَّاۤ اِلٰـهٌ وَّاحِدٌ ۗ وَاِ نْ لَّمْ يَنْتَهُوْا عَمَّا يَقُوْلُوْنَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْهُمْ عَذَا بٌ اَ لِيْمٌ
"Sungguh, telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa azab yang pedih."
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 73)
Saya rasa Anda pusing memahaminya, begitu juga dengan saya. Namun lebih baik pusing terus berpikir daripada menelan mentah - mentah pemahaman yang menyesatkan. Minimal apabila ada orientalis yang mendoktrin Anda, Anda telah memahami kok koyoke ora ngono yo.
Semoga kita selalu dibimbing Allah untuk mendapatkan Majelis Ilmu yang benar dan dijauhkan dari Majelis Ilmu yang sesat dan menyesatkan. Pendapat Gus Baha tersebut diambil dalam Kitab Tafsir Jalalain, bukan menurut pendapat Pribadinya. Begitulah cara Ulama yang benar - benar Ulama, mengambil ilmu merujuk pada kitab - kitab klasik yang jelas sumber keilmuannya dan secara konsensus diakui bersama. Bukan (maaf) Ulama abal - abal yang tidak jelas rujukan kitab tafsirnya dan memamahi ayat semaunya sendiri.
-Deny Putra Hutama-

Comments
Post a Comment