Tulisan saya 24 Juni 2018![]() |
| Pintu utama Pesarean Keluarga Pesantren Tebu Ireng. Sumber Gambar: Dok Pribadi |
Selepas saya pulang, saya mendapat barokah waliyullah itu. Hati menjadi tenang, adem dan damai. Pikiran saya menarik saya untuk flasback ke tahun - tahun perjuangan merebut kemerdekaan. Semua elemen bangsa bahu membahu berperang melawan penjajah, baik sebelum maupun selepas negeri ini memproklamirkan kemerdekannya dan fakta menarik yang sebagian orang lupa bahwa "saham" terbesar pejuang kemerdekan dimiliki oleh umat Islam. Meskipun memiliki "saham" terbesar berdirinya Republik ini, dengan segala kerendahan hatinya, umat Islam memilih negara Pancasila sebagai bentuk negara. Seharusnya, sah - sah saja apabila umat Islam kala itu memilih bentuk negara Islam, lha wong "saham" terbesarnya umat Islam. Tetapi demi keutuhan bangsa, umat Islam rela merendah untuk meninggi.
Singkat cerita, Bung Karno mengutus KH Wahid Hasyim untuk meminta pendapat kepada ayahnya, Hadratussyaikh Muhammad Hasyim Asy'ari mengenai negara Pancasila ini. Kedekatannya dengan Tuhan, membuat Mbah Hasyim melakukan tirakat untuk mendapat petunjuk dari Tuhan apakah Negara Pancasila sudah Syar'i dan sudah Benar. Puasa 3 hari, menghatamkan Al Fatihah 350.000 kali dan melakukan Sholat Hajat dimana raka'at pertama At Taubah 41 kali dan raka'at kedua Al Kahfi 41 kali. Akhirnya, Tuhan melalui Mbah Hasyim melegitimasi bahwa Negara Pancasila sudah benar dan Pancasila sudah cocok menjadi Dasar Negara.
Namun, akhir - akhir tahun ini, telah terjadi pergeseran nilai mengenai Islam dan Politik. Fenomena ini menyebabkan distorsi dalam masyarakat dan berujung pada polarisasi yang meruncing yang tidak sehat untuk kehidupan berbangsa. Sebagai contoh, dalam kontestasi Pilkada, ada pasangan calon yang bersilaturahmi kepada Ulama, mengunjungi pondok pesantren dan berbagai kegiatan lain yang berhubungan dengan agama, mendapat stigma yang negatif di masyarakat. Ada yang mengatakan menjual agama untuk kepentingan politik praktis, adu program vs jual agama dan masih banyak lagi. Saya sangat menyayangkan mereka yang berbicara seperti itu, apalagi yang berbicara itu muslim. Besar kemungkinan, mereka tidak memahami sejarah perjuangan kemerdekaan secara komprehensif, hanya sepotong - sepotong seperti kue tart dan terbawa opini - opini yang menyesatkan. Mereka yang kurang memahami sejarah tidak bisa juga langsung disalahkan karena keberadaan sejarah kemerdekaan boleh jadi tidak dihidangkan secara utuh dalam materi sekolah ataupun perkuliahan. Contoh kecil, apakah Anda tahu kemerdekaan Indonesia diproklamirkan tanggal 9 Ramadhan 1364 Hijriah? Apakah Anda tahu Jalan Pegangsaan Timur No 56 Jakarta yang menjadi konsumsi materi sejarah adalah rumah saudagar Arab kelahiran Yaman, Faradj Martak?
Kurangnya pemahaman sejarah ditambah migrasinya paham - paham sekuler dan liberal semakin membuat bingung masyarakat. Masyarakat semakin terbawa opini dan membenarkan kalimat - kalimat yang kelihatannya indah namun salah kaprah. Jangan bawa - bawa agama dalam politik, memilih berdasarkan Kerja bukan Agama. Wasyuuu matamu a raoleh di gowo - gowo hehehe. Falsafah negara ini hasil Ijtihad Ulama dan dalam Islam mengatur semuanya termasuk Politik. Jadi sah - sah saja membawa Agama dalam Politik karena Agama menanaungi banyak hal termasuk Politik, asal ditempatkan pada koridor yang tepat. Contoh koridor yang tidak tepat seperti mengkapling masjid tertentu menjadi masjid partai politik tertentu. Ini yang tidak tepat karena dalam masjid semua boleh dibicarakan asalkan baik dan tidak tepat bila mengkapling - kapling masjid. Logika seperti ini yang seharusnya menjadi mindset masyarakat.
Bagaimana kalau memilih Pemimpin berdasarkan Kerjanya atau Agamanya? Ini logika liberal orientalis. Perbandingan harus apple to apple, kerja harus dibanding dengan kerja dan agama harus dibanding dengan agama. Jadi kalau ada pernyataan "Lebih baik memilih Pemimpin Kafir tapi Jujur dan Kerja Keras daripada Pemimpin Muslim yang Korup dan Malas", itu perbandingan yang cacat, tidak baik. Kalau ada masyarakat yang masih menanggapi, ini menjadi hal serius karena opini ini akan menjadi opini publik yang menyesatkan. Sebenarnya tidak ada namanya opini publik, yang ada hanyalah opini yang dipublikkan. Kalau opini publik yang sesat ini tersebar luas, muncullah initial crack pada masyarakat yang berujung pada polarisasi yang tajam yang sudah saya jelaskan diatas.
Jadi, mari bersama - sama menjadi masyarakat yang cerdas. Sesungguhnya mereka diluar sana ingin memecah belah bangsa dengan menanamkan pemikiran pemikiran liberal, sekulerisme, orientalis, dan pasti ada pentolan - pentolan dari paham - paham tersebut yang sok merasa benar tampil di publik. Kasihan sebenarnya mereka itu. Liberal Islam itu, kalau dianggap Islam yaaa tanggung, kalau dianggap kafir yaaa kurang kafir. Doakan saja agar mereka mereka bisa kembali ke jalan yang lurus. Masa membaca minimal 17 kali sehari tidak ditunjukkan jalan yang lurus bagi mereka yang mengaku Islam, ya meskipun Islam liberal.
Semoga kita semua termasuk masyarakat cerdas dan dapat berkontribusi bagi bangsa dalam urusan Ukhuwah Wathoniyah dan menjadi masyarakat yang sholeh - sholehah dihadapan Allah Tuhan Yang Maha Esa. Aamiin. Salam.
![]() |
| Inframe: Sahabat Karib Asep Fahza |
-Deny Putra Hutama-


Comments
Post a Comment