| al-Mukarram Gus Mus. Sumber Gambar: Dokumen Pribadi |
KH Ahmad Musthofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus hadir untuk mengisi pengajian dalam rangka Hari Lahir Nahdlatul Ulama yang ke-94. Acara tersebut diselenggarakan oleh PC NU Kabupaten Karawang. Ada beberapa mutiara hikmah Ngaji bareng Gus Mus kali ini yang rasanya harus saya sampaikan disini, eman kalau saya simpan sendiri. Kalau boleh minjam kalimatnya Gus Baha, kira - kira bahasanya "ini penting saya utarakan".
Gus Mus menyampaikan ada 4 poin syukur yang harus kita renungkan dan tafakur.
1. Syukur Kepada Allah Atas Nikmat menjadi Manusia
Kita harus bersyukur kepada Allah karena kita ditakdirkan menjadi makhluk yang paling sempurna. Kita memiliki akal untuk berpikir dan hati untuk perasa. Bisa dibayangkan apabila kita ditakdirkan menjadi batu, yang hanya benda mati, dapat dipecah - pecah sampai kecil, tidak berdaya sama sekali. Bisa dibayangkan apabila kita ditakdirkan menjadi tanaman, hanya memiliki indera perasa, tak punya akal pikiran dan tidak bisa pula mengekspresikan perasaannya. Bisa dibayangkan apabila kita ditakdirkan menjadi binatang, memang memiliki akal pikiran dan hati namun tidak sempurna.
Sekali lagi kita patut bersyukur, Allah telah mentakdirkan kita menjadi manusia. Lantas apa balasan kita, manusia, atas kebaikan Allah? Yang pertama memang bersyukur dengan berucap Alhamdulillah, kalimat sederhana namun berat timbangannya. Yang kedua, yang harus kita tafakur bersama adalah berusaha menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Beribadah kepadaNya dan bertaqwa kepadaNya. Gus Mus memberikan anologi seperti ini. Bayangkan Anda memberi baju kepada seseorang, katakanlah Zaid, lalu Zaid berterima kasih kepada Anda, namun sambil berterima kasih kepada Anda, Zaid menggunakan baju yang Anda beri untuk mengepel lantai dan membersihkan kursi. Bagaimana perasaan Anda? Sebuah analogi yang luar biasa dari Gus Mus yang mengingatkan kita bahwa selain bersyukur di lidah, harus dibarengi dengan merawat nikmat kita menjadi Manusia yaitu dengan Beribadah kepadaNya.
| Gus Mus Semangat Memberi Tausiyah. Dok Pribadi |
2. Syukur Kepada Allah Atas Nikmat Menjadi Umat Kanjeng Nabi Muhammad SAW
Kita adalah orang Indonesia, orang Karawang, yang jauh dari Makkah Madinah. Lidah kita juga berbeda dengan lidah kanjeng Nabi. Kita juga bukan tetangga kanjeng Nabi apalagi keluarga. Tapi dengan Rahmat Allah, kita bisa menjadi umat kanjeng Nabi. Ini adalah kenikmatan hidayah yang luar biasa. Untuk ditafakuri, seseorang yang bernama Abu Lahab, paman kandung Nabi, tetangga pet Nabi, besan Nabi, satu bahasa dengan Nabi, tidak ditakdirkan Allah untuk menjadi Umat Islam, umat kanjeng Nabi. Tak perlu ditanyakan mengapa demikian karena itu adalah Hak Prerogatif Allah, tak pantas makhluk bertanya demikian kepada Khaliq.
Bagaimana kita mensyukuri nikmat menjadi umat kanjeng Nabi? Tentu dengan berucap syukur di lidah dan meniru akhlak kanjeng Nabi. Di zaman akhir seperti ini, banyak orang berilmu namun tidak berakhlak. Ngomongnya kasar, tak santun dan sangat tidak mencerminkan akhlak kanjeng Nabi. Gus Mus juga mengatakan bahwa apabila akhlakmu baik, itulah agamamu. Ini yang perlu kita renungkan bersama bahwa akhlak diatas ilmu.
| Gus Mus Atraktif dengan Hadirin. Dok Pribadi |
3. Syukur Kepada Allah Atas Nikmat Menjadi Nahdliyin
Kita patut berbangga, bersyukur, bahwa di zaman akhir seperti ini, zaman beragam aliran, kita ditakdirkan Allah menjadi Nahdliyin, pengikut Jam'iah Nahdlatul Ulama yang didirikan oleh orang 'Alim dan Sholeh, Hadratussyaikh Muhammad Hasyim Asy'ari, Ulama kaliber dunia. Di dalam Jam'iah ini, InsyaAllah kita akan selamat dari akidah yang menyimpang, menjaga akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
Cara mensyukuri nikmat menjadi Nahdliyin adalah menjalankan amaliah - amaliah NU. Kita harus bangga bisa ngaji dengan Ulama NU karena ilmu dari Ulama NU ber-sanad sampai ke kanjeng Nabi dan dapat dipertanggung jawabkan sampai nanti di Pengadilan Akhirat. Di zaman akhir seperti ini, banyak orang berceramah hanya dengan modal al-Qur'an dan Hadits Terjemahan. Sangat kacau konstruksi berpikirnya. Gus Mus menyarankan kita bangga di NU, tetap ngaji di kyai - kyai NU dan tinggalkan ngaji dengan Ulama abal - abal.
| Gus Mus Bersama Sayyid Seif Alwi. Dok Pribadi |
4. Syukur kepada Allah Atas Nikmat Menjadi Bangsa Indonesia
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, memiliki beragam suku, ras, agama, namun hidup rukun dan saling bertoleransi. Namun, ada yang aneh pada bangsa ini akhir - akhir ini. Seolah - olah ada yang tidak menginginkan bangsa ini rukun. Ini yang harus kita lawan bersama. Tanah ini, Indonesia adalah tanah kelahiran kita, tempat sujud kita dan InsyaAllah tanah kita dikubur nanti yang InsyaAllah husnul khatimah, Aamiin. Gus Mus mengatakan bahwa kita adalah orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang kebetulan tinggal di Indonesia. Jadi wajar kita marah, kita risau terhadap mereka yang ingin menghancurkan negara ini. Hubbul Wathan minal Iman.
4 poin diatas adalah sebagian mutiara hikmah Gus Mus yang saya rangkum dan kembangkan dengan bahasa saya sendiri. Semoga kita bisa memetik hikmah dari dawuh guru kita bersama dan gandulan sarunge KH Ahmad Musthofa Bisri.
| Hanya bisa berfoto dengan Gus Mus lewat banner :( |
-Deny Putra Hutama-
Comments
Post a Comment