![]() |
| al-Isra ayat 23 |
Misal begini. Lihat al Isra ayat 23. Ayat yang umum di telinga teman - teman tentang larangan durhaka kepada orang tua. Ayat tersebut melarang kita membentak orang tua, menyuruh mengucapkan yang baik - baik kepada orang tua dan bahkan hanya mengucapkan "ah" pun dilarang. Lalu coba kita terapkan pehaman tekstual dalam kehidupan. Ada seorang laki - laki, sebut saja Zaid, memiliki kedua orang tua yang sudah sangat sepuh, tidak memiliki penghasilan. Suatu ketika kedua orang tua itu meminta bantuan kepada Zaid untuk dikirimi uang untuk biaya makan sehari - hari. Zaid tidak menjawabnya dan membiarkannya seperti angin lewat. Lantas temannya mengingatkan bahwa Zaid telah durhaka kepada orang tuanya. Zaid dengan tegas menjawab, "dimana letak durhakaku, sementara al Isra ayat 23 hanya menjelaskan bahwa durhaka itu yang membentak orang tua dan berkata "ah"".
Itu adalah contoh fatal memahami ayat hanya secara tekstual. Kalau Zaid cerdas memahami ayat, lha wong mengatakan "ah" saja dilarang apalagi membiarkan orang tua kelaparan dan tidak peduli sama sekali.
Ikuti Majelis yang memahami agama dengan benar, secara kontekstual, dari para Ulama yang ilmunya sambung sampai ke Nabi. Ikuti Majelis yang mengajarkan Akhlak sebelum Ilmu itu sendiri. Karena kalau hanya Ilmu yang diagungkan sebelum akhlak, apa bedanya pemberi ilmu itu dengan Iblis. Bahkan Iblis lebih pintar karena pernah menjadi penghuni surga.
Iblis dan Adam sama - sama pernah melakukan kesalahan, namun mengapa dosa Adam diampuni sedangkan Iblis tidak? Adam berakhlak, menyadari dirinya bersalah, memohon ampun kepada Tuhan, sedangkan Iblis tak berakhlak, merasa lebih tinggi dari Adam, padahal keduanya hanyalah Makhluk dari dzat yang Wajibil Wujud, Allahu Rabbul 'Alamiin.
-Deny Putra Hutama-

Comments
Post a Comment