![]() |
| Screenshoot Instagram Kelompok Tertentu |
Baru - baru ini, sedang viral akun medsos kemenkeumengaji yang menyatakan bahwa Tashawuf adalah firqah bid'ah. Audzubillahi min dzalik. Entah didikan atau naungan ustadz siapa kelompok pengajian tersebut, yang jelas pernyataan tersebut membuat hati saya terketuk untuk menulis ini.
Beragama harus secara menyeluruh, jangan setengah - setengah apalagi sepotong - sepotong. Tren beragama era sekarang adalah hanya mengkaji fikih, hanya mempelajari perkara halal - haram, siapa yang menguasai halal - haram dialah yang merasa paling faqih, paling beragama. Itu dari kacamata saya, mungkin sama dengan kacamata Anda.
Sadar tidak sadar, hanya mengkaji fikih akan membuat pola pikir kita terlalu ketat, saklek dan kering. Ketat karena disetiap mata memandang yang terbayang adalah halal - haram, bukan mensifati dan mentadaburi apa yang dilihat. Saklek karena merasa paling beragama dan paling benar. Kering karena hatinya tidak diisi dengan dzikir dan penghayatan mengingat Allah, mensifati dan mensyukuri tanda - tanda kebesaranNya di dunia ini.
Memang mengkaji fikih itu penting, bahkan sangat penting karena kehidupan sehari - hari tidak lepas dari perkara fikih. Akan tetapi ada bidang lain selain fikih yang secara integral menjadi bagian dari Agama dan tak dapat dipisahkan. Mungkin Anda pernah mendengar cerita ketika Sayyidina Jibril a.s. menyamar menjadi pemuda dan bertanya kepada Nabi mengenai Iman, Islam dan Ihsan. Ya, 3 bidang itu yang harus dipelajari dalam beragama karena satu dengan yang lain saling berkaitan, tidak bisa dipisahkan.
Iman dengan keenam rukunnya, yang bahasa lainnya adalah Aqidah, hal prinsip yang harus dipegang seorang muslim. Di akhir zaman ini, kita harus ikut atau manut kepada 2 ahli aqidah yaitu Imam Abu Hasan al-'Asyari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi, agar kita terhindar dari banyak aliran aqidah yang sesat dan menyimpang.
Islam dengan kelima rukunnya, yang penjabaran setiap rukun termasuk turunan hukumnya disebut fikih. Di akhir zaman ini, kita umumnya mengenal 4 ahli fikih yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii dan Imam Ahmad. Dari sini perkara halal - haram dibahas.
Ihsan yang mengajarkan menyembah Allah seolah - olah kita melihatNya. Namun apabila kita tidak bisa, kita bayangkan Allah melihat kita. Dari sini muncul mutiara - mutiara hikmah kehidupan, ilmu hakiki untuk sampai pada derajat ma'rifat dengan Allah. Dalam bertashawuf, kita mengkiblat pada Imam Abu Qosim al-Junayd al-Baghdadi dan Imam Abu Hamid al-Ghozali.
Dalam ilmu tashawuf, kita diajarkan untuk welas asih ke sesama makhluk Allah, bukan hanya manusia saja. Termasuk welas asih ke Alam dan seisinya. Diajarkan pula ilmu akhlak, yaitu sopan, santun, ramah, tamah dan kejujuran. Diajarkan untuk menerapkan ilmu akhlak ke sesama manusia, melihat menggunakan kacamata batin, jangan hanya kacamata lahiriyah. Diajarkan pula wushul kepada Allah, berkomunikasi dengan makhluk ciptaanNya baik yang kasat mata maupun yang tak kasat mata. Diajarkan pula ilmu segala ilmu, sifat Rahman dan Rahim, sifat Allah yang diturunkan kepada kita melalui Nur CahayaNya, untuk kita terapkan kepada makhluk ciptaanNya. Dengan berbekal ilmu - ilmu tersebut, lantas manusia seharusnya menjadi makhluk yang Insan Kamil, tawadhuk, tidak mudah menjelek - jelekkan orang lain, bahkan membid'ahkan dan mengkafirkan perkara yang sebenarnya tidak demikian.
Saya teringat pesan guru saya, Ilmu Tashawuf sing Nyurup kana Hati, Ilmu Fikih sing Alus Pikiranna, Ilmu Hadis sing Ngajinis tingkah lakuna. Semoga kita selalu diberkahi Allah dan selalu dituntun ke Jalan yang diridhoiNya. Aamiin Allahuma Aamiin.
-Deny Putra Hutama-

Comments
Post a Comment