![]() |
| Words. Sumber Gambar: Google |
Berbicara sudah menjadi kebiasaan sehari - hari bagi manusia karena merupakan alat komunikasi utama selain bahasa isyarat. Tapi siapa sangka bahwa dalam sebuah kalimat yang dilontarkan, dapat memberikan dampak yang luar biasa. Kalimat dapat menjadi sarana bangkit seseorang yang terpuruk, sarana mendapatkan hidayah dan sarana berbuat kebaikan lainnya. Saya sebutkan beberapa contoh sebagai berikut untuk kita renungkan bersama. Harapannya adalah kita menjadi lebih bijak lagi sebagai manusia, berhati - hati atas apa yang kita ucapkan, berfikir dan menghayati sebuah kalimat sebelum keluar dari lidah.
1. Kisah Firaun dan Nabi Musa.
Suatu ketika Nabi Musa ditanya oleh Firaun
Firaun: Kalau menurut Anda Allah adalah Tuhan, lalu siapakah itu Tuhan yang Anda Agung - Agungkan itu?
Musa: Ia adalah Tuhan langit dan bumi.
Kalimat Nabi Musa tersebut adalah benar, namun tidak bisa meruntuhkan logika Firaun. Firaun lantas membalas,
Firaun: Kalau Tuhan itu di bumi setau saya yang Tuhan itu ya saya, karena selama saya menjelajah bumi, yang menjadi Tuhan adalah saya. Kalau soal Tuhan di langit, saya mengutus Hamman (Utusan Firaun) untuk membuat Piramida dan setelah saya lihat tidak kelihatan Tuhan Anda itu.
Nabi Musa lantas mengeluarkan sebuah kalimat yang dapat menggugurkan logika Firaun sebagai Tuhan dan memberi hidayah pada orang - orang yang menyaksikan perdebatan Nabi Musa dan Firaun.
Musa: Kalau Anda tidak setuju dengan sifat Tuhan yang menuhani langit dan bumi, Tuhan saya adalah yang menuhani Anda dan nenek moyang Anda terdahulu.
Seketika runtuhlah logika Firaun sebagai Tuhan karena bagaimana bisa Tuhan datang belakangan, lantas siapa Tuhan nenek moyang Firaun sebelum Firaun ada. Kalimat Nabi Musa ini sangat sakti dan menjadi pengingat dan bahan tadabbur untuk kita sampai hari ini.
2. Kisah Tsalabah yang salah mengucapkan kalimat yang membuat Tuhan murka.
Tsalabah adalah sahabat Nabi yang memiliki gelar "Merpati"nya Masjid karena tidak pernah terlewat Sholat berjamaah. Suatu ketika Tsalabah ditanya Nabi karena sering langsung pulang setelah berjamaah.
Nabi: Ya Tsalabah, mengapa Anda setelah berjamaah langsung lari (pulang)?
Tsalabah: Ya Rasulullah, istri saya dirumah sedang tidak memakai baju dan ia dapat mendirikan sholat ketika gantian baju dengan saya.
Nabi hanya diam. Karena hal itu dilakukan berulang - ulang, Tsalabah akhirnya memohon kepada Nabi agar didoakan keadaan ekonominya membaik. Nabi hanya menjawab datar bahwa mungkin itu yang terbaik bagi Anda. Hari kedua sampai berlanjut hari ketiga, Tsalabah terus minta didoakan kepada Nabi agar keadaan ekonominya membaik dan Nabi pun mau mendoakannya agar menjadi kaya karena terus didesak oleh Tsalabah.
Singkat cerita Tsalabah menjadi kaya raya karena memiliki kambing yang sangat banyak, dikisahkan sekitar 4000 ekor kambing. Akhirnya Tsalabah mulai meninggalkan Sholat berjamaah dhuhur dan bahkan sampai tidak Sholat berjamaah sama sekali. Nabi pun tidak tersinggung atas perubahan sifatnya, karena memang sholat berjamaah ya tidak wajib. Tapi, bencana besar bagi Tsalabah datang ketika Nabi mengutus seorang utusan untuk menarik zakat dari Tsalabah. Zakat untuk 40 ekor kambing adalah 1 ekor kambing dan karena Tsalabah memiliki 4000 ekor kambing maka zakatnya adalah 100 ekor kambing. Hari pertama penarikan zakat, Tsalabah tidak mau berzakat, begitu juga hari kedua sampai pada hari ketiga.
Pada hari ketiga, keluarlah kalimat dari mulut Tsalabah yang membuat Allah murka, Tsalabah mengomentari Nabi bahwa ini bukanlah zakat melainkan pungli. Kalimat tersebut yang menjadikan Tsalabah dicap dalam al-Quran sebagai orang munafik.
3. Debat Syaikh Ahmad Deedat dengan Pendeta Stanley Sjoberg.
Pada suatu debat antara Syaikh Ahmad Deedat dengan Pendeta Stanley Sjoberg, Syaikh Ahmad Deedat melontarkan kalimat yang sangat tajam, logic dan membuat Pendeta Stanley tidak mampu menjawab. Kalimat yang dilontarkan adalah "Kalau Yesus itu makan, jangan - jangan pas Anda sembah itu pas Yesus itu berak?" Kalimat tersebut terkesan ngawur, ngeri namun sangat logic dan mematikan. Kalimat itu juga yang membuat Pendeta Stanley tidak mampu menjawabnya. Dengan kekuatan kalimat Syaikh Ahmad Deedat tersebut, orang menjadi terngiang dan teringat terus bahwa Yesus tidak mungkin menjadi Tuhan.
3 kisah tersebut yang membuktikan bahwa betapa "sakti"nya sebuah kalimat. Sebuah kalimat mampu meruntuhkan logika dan sebaliknya menguatkan logika.
-Deny Putra Hutama-
-Deny Putra Hutama-

Comments
Post a Comment