![]() |
| Sumber Gambar: Kompasiana.com |
Poligami menjadi kata yang sensitif apabila dilempar ke ruang diskusi publik, baik grup Whatsapp, sharing bersama teman - teman, Twitter, Facebook dan lain sebagainya. Banyak Pro Kontra terhadap kata tersebut. Saya akan membahas secara proporsional, seimbang dan adil. Boleh setuju boleh tidak.
![]() |
| an Nisa ayat 3 |
Pertama.
Syariat Islam memang memperbolehkan adanya Poligami sebagaimana yang tertulis dalam Surat an Nisa Ayat 3 diatas. Namun memahami al-Quran tidak bisa serta merta hanya melihat teks terjemahan saja, kita harus ngaji ke ahli nya, ahli Tafsir al-Quran yang memiliki Sanad keilmuan yang jelas dan sampai ke Nabi. Kebetulan saya senang sekali mendengarkan ngaji Gus Baha yang menurut saya sudah ahli dalam bidang tafsir.
Menurut Gus Baha pada pengajian Tafsir Jalalain, an Nisa ayat 3 tersebut bukan dalil nikah sembarangan tetapi ada Asbabun Nuzulnya. Dahulu zaman Jahiliyah, kalau ada perempuan yatim yang cantik, yang ingin menikahi banyak. Tapi kalau perempuan yatim itu tidak cantik, yang tidak ingin menikahi juga banyak. Oleh sebab itu menikahi perempuan yatim beresiko memiliki niat mengambil hartanya. Jadi menikahlah dengan perempuan lain yang bukan yatim. Nikahilah perempuan lain sebanyak dua, tiga, empat, tetapi kalau kamu khawatir tidak ADIL, nikahilah satu saja atau hamba sahaya. Nikah yang demikian itu lebih dekat agar tidak berbuat lacut.
Memahami an Nisa ayat 3 harus secara menyeluruh, sebagai satu kesatuan ayat, bukan memotong ayat sesuka hati sesuai keinginan dan pikiran sesaat. Poin dari ayat tersebut adalah
1. Menikahlah dengan perempuan lain yang bukan yatim agar terhindar dari resiko memiliki niat mengambil harta perempuan yatim tersebut.
2. Batas perempuan yang boleh dinikah adalah empat
3. Apabila kamu khawatir tidak dapat berlaku Adil, nikahilah satu saja
4. Hamba sahaya sudah tidak ada di zaman sekarang sehingga sudah tidak relevan
5. Menikah yang demikian tersebut mengindarkan dari sifat lacut
Saya tidak akan menjelaskan poin satu, dua atau lima, lebih baik Anda mendengarkan ngaji Gus Baha sendiri saja agar tidak salah paham. Dari lima poin diatas, yang harus menjadi pusat perhatian adalah poin dua dan tiga. Boleh saja Anda menikahi perempuan sampai empat tapi bisa Adil-kah Anda? Adil terhadap istri pertama sampai istri keempat dari berbagai aspek? Aspek materi, kebutuhan psikis, kebutuhan biologis, moral, sosial dan aspek - aspek printilan lain. Adil terhadap anak - anak istri pertama sampai istri keempat, adil kasih sayangnya, adil materinya, adil perlakuannya. Belum lagi adil dari aspek keluarga perempuan. Jangan sampai niat menjalankan Sunnah tetapi Dosa yang kelampah, yang ujung - ujungnya hanya akan mendapatkan Bendhu dari Tuhan.
Kedua.
Habib Ali al-Jufri berkata bahwa "Tidak ada yang salah dengan Syariat Poligami. Hanya saja dari pengalaman pribadi, saya bisa menyimpulkan bahwa kebanyakan pria di zaman ini tidak layak untuk poligami, termasuk saya ini".
Saya sangat sependapat dengan Habib Ali bahwa kebanyakan pria di zaman ini sudah berubah orientasi poligaminya, hanya semata - mata untuk pemuas nafsu birahi belaka. Contohnya adalah kebanyakan perempuan yang dipoligami di zaman ini adalah perempuan cantik jelita.
![]() |
| Fakta poligami Nabi. Sumber Gambar: Islami.co |
Berbeda dengan orientasi poligami Nabi. Nabi memiliki sembilan istri dan delapan dari sembilan istri tersebut dinikah Nabi pada delapan tahun terakhir usia Nabi. Hanya satu yang perawan dari sembilan istri tersebut yaitu Syaidah Aisyah r.a. Nabi pun tidak memiliki anak dari kedelapan istri tersebut. Nabi hanya memiliki anak dari istri pertama yaitu Syaidah Khadijah r.a. Secara periode, monogami Nabi lebih lama yaitu 28 tahun Syaidah Khadijah r.a. Orientasi Nabi berpoligami bukan nafsu birahi tetapi menolong janda - janda tua. Sebagai contoh, Istri Nabi yang bernama Saudah binti Zam'ah. Hijrah bersama suaminya ke Makkah, untuk berperang bersama suaminya. Suaminya meninggal karena berperang membela Nabi. Lalu Saudah hidup sendirian. Kalau Nabi tidak menikahinya malah terlihat atau terkesan jahat karena sudah dibela tetapi ketika telah menjadi janda dibiarkan. Itulah orientasi poligami Nabi, menolong janda - janda yang hidup sebatang kara, berbeda dengan orientasi poligami pria zaman ini yaitu menikahi perawan - perawan cantik jelita yang apalagi kalau bukan nafsu birahi belaka. Sungguh jelas perbedaannya.
Ketiga.
Jangan sampai saya pribadi dan Anda membenci diksi poligami yang sudah terkesan buruk di masyarakat, akibat ulah mereka yang tidak mengaplikasikan poligami pada tempatnya. Saat Aa Gym melakukan poligami, banyak orang bahkan intelektual Islam yang mengkritik betapa buruknya poligami. Sebenarnya, yang dibidik bukan Aa Gym tetapi umat Islam, dengan membangun perspektif betapa buruknya poligami, apalagi poligami dibawah umur. Apabila umat Islam sudah mulai janggal terhadap poligami, maka ujung - ujungnya korbannya adalah Nabi karena bagaimanapun Nabi menikahi Syaidah Aisyah r.a yang berusia 12 tahun. Kalau sudah sampai titik ini, tertawalah mereka para orientalis yang memang ingin mengancurkan Islam dari dalam.
Jadi menurut saya, kita harus bersikap biasa - biasa saja, jangan terlalu mengkutub ke pihak Pro maupun Kontra. Letakkan poligami pada tempat yang tepat. Kritiklah terhadap mereka yang berpoligami hanya untuk pemuas nafsu birahi belaka dan tidak memahami hakikat poligami sesuai ajaran Agama. Namun jangan terlalu membenci poligami karena boleh jadi saya pribadi dan Anda masuk kedalam jebakan Orientalis yang ujung - ujungnya meragukan dan membenci Nabi, Naudzubillahi min dzalik. Nabi adalah manusia Agung, kekasih Allah Tuhan Yang Maha Suci dan Tinggi, yang kita harapkan Syafaatnya kelak di Hari Pembalasan nanti. Semoga saya pribadi dan Anda termasuk golongan orang - orang yang diberi Nur oleh Tuhan untuk dapat memahami Syariat Agama dengan Benar dan termasuk golongan yang dicintai Nabi صلى الله عليه وسلم
اللهم صل و سلم وبارك على سيدنا محمد
-Deny Putra Hutama-



Comments
Post a Comment